Sabtu, 26 Februari 2011

Penyesalanku :(

Satu tahun yang lalu , tepat saat ulang tahunku yang ke-15 aku merasakan saat yang terindah dalam hidupku. Aku berkenalan dengan cowok bernama Kevin teman satu sekolahku. Di mataku Kevin keren banget. Aku selalu merasa bahagia ketika melihatnya. Pada suatu hari dia pernah datang kerumahku dengan membawa sebucket bunga mawar warna merah yang tertata sangat indah. Lagi-lagi hatiku merasa bahagia menerima bunga darinya.
Perkenalanku dengan Kevin ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ. Setelah pendekatan beberapa bulan akhirnya kami jadian. Aku merasa bahagia sekali ternyata cowok yang sebelumnya aku kagumi ternyata sekarang menjadi pacarku. Dia ga pernah males menemaniku kemana saja aku mau.
“kamu beruntung nay punya cowok seperti Kevin..” begitu kata semua teman dekatku.
Iya sih tapi terkadang ada satu hal yang membuatku merasa ada yang kurang dalam diri Kevin. Dia bukan cowok yang pintar seperti yang aku inginkan. Dia cowok yang sedikit brandal. Bukan cowok smart idamanku.
            Hampir satu tahun dalam kebersamaan kami , aku mulai merasa tidak nyaman. Bosan punya cowok yang seperti itu. Ah , kadang aku bermimpi ada cowok yang sesuai dengan minatku selama ini. Karena kebetulan aku suka segala sesuatu yang berbau pelajaran , tiba-tiba aku ingin punya seseorang cowok yang seperti aku inginkan.
Saat aku mengikuti bimbingan belajar di tempat lesku tiba tiba aku bertemu dengan seorang cowok bernama Dafa. Dia juga keren seperti Kevin tetapi Dafa jauh lebih pintar dari pacarku sendiri.
“aku Dafa” itu katanya saat memperkenalkan diri padaku.
Lagi-lagi perasaan aneh yang kurasakan saat pertama kali aku melihat Kevin muncul lagi.
Oh God , what’s going on?
            Nggak hanya sampai di situ saja perasaan ini. Ternyata baying-bayang Dafa selalu mengikutiku kemana saja aku pergi. Termasukk ketika aku bersama Kevin.
Kevin sepertinya tidak paham dengan apa yang terjadi. Telepon dari Dafa sering masuk ketika aku jalan dengan Kevin dan aku selalu sukses berbohong kepada Kevin dengan mengatakan telepon itu dari teman saja.
Suatu ketika Dafa mengajak aku ketemu lagi.
“Nay , kita jadian yuk?” kata Dafa.
“nggak mungkin Dafa! Nggak mungkin! Jawab aku.
“kenapa ga mungkin? Ayolaaaaah!!”
“aku sudah punya pacar daf . aku sayang sama pacarku dan pacarku juga sayang banget sama aku namanya Kevin”.
“Kevin? Terus kenapa? Kamu kan bisa jalanin dua-duanya!” kata dafa tenang.
“apa?!!!”
“nay , nggak hanya cowok aja kok yang bisa begitu. Cewek juga bisa. Jadikan aku yang kedua..” kata Dafa lagi.
            Entah apa yang membuat aku jadi menerima ucapan Dafa. Menduakan Kevin dan menerima kehadiran Dafa dan parahnya lagi sering banget Kevin mengantarku pada saat ingin bertemu Dafa. Bahkan Kevin juga menemaniku waktu mencari sesuatu hadiah untuk Dafa. Sahabat-sahabatku protes. Mereka marah denganku bahkan mulai membenciku karena hal ini. Setiap kali aku berusaha membela diri mereka justru semakin memojokanku.
“hati-hati Nay! Kevin itu seperti mutiara asal lo tahu ya! Lo pasti akan menyesal nanti”
Begitu teman-temanku mengingatkanku. Aku tetap mengikuti kata-kata Dafa , kalau bisa kenapa tidak? Aku pun asyik dalam duniaku ini.
Kalau malam minggu ini sudah ketemu Kevin minggu depannya aku ketemu dengan Dafa dan berbohong dengan alas an apa saja. Ketika teman-temanku menanyakan dengan santai aku menjawab “Enak banget jalan dengan dua cowok”. Kemana mana selalu ada yang nganterin , ngajak makan , dan membeli apa saja yang aku mau jadi uang jajan aku utuh deh.
Dilubuk hatiku yang paling dalam ada rasa aku tidak ingin putus dengan Kevin karena dia sudah baik banget sama aku apalagi dia sangat sabar banget denganku dan mama papa aku sudah nyaman banget dengan Kevin. Tapi untuk putus dengan Dafa jelas berat bagiku. Aku menikmati hari-hari yang indah dengannya dan menjalani hobby yang sama. Namun apa yang aku pikirkan ternyata tidak sejalan dengan kenyataan. Tiba-tiba Dafa mendatangiku dengan wajah yang cuek dan marah.
“Nay , lo mesti pilih! Gue atau Kevin? Gue sudah nggak tahan lo jadiin yang kedua”
Aku kaget banget ini bukan perjanjian awal aku dengan Dafa. Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba Dafa berubah pikiran seperti itu. Aku menjawabnya kalau kami nggak mungkin jadian seperti pasangan pacaran lain. Aku jelasin lagi kalau aku sudah punya pacar. Aku tidak bisa mutusin Kevin begitu saja.
            Ternyata Dafa capek harus jalan denganku tiap saat seperti ini. Mau ketemu saja harus mengatur jadwal dulu , mau kerumah sering aku larang segala macemlah. Tiba-tiba Dafa mengatakan sesuatu yang membuatku seolah dihujani amarah dan kesedihan yang sangat mendalam.
“baiklah menurut gue semua mungkin. Lo tinggal pilih.. gue atau Kevin?” saat itu aku melihat wajahnya yang memerah seperti ingin marah.
“kalau gue pilih Kevin gimana?” aku mencoba untuk bercanda.
kevin nggak akan selamat” Dafa tiba-tiba mengancam sambil menarik tanganku dengan kuat. Aku sangat kaget dengan ancaman Dafa yang seperti itu tapi aku hanya berpikir aku kira itu hanya main-main saja. Ternyata dugaan aku salah lama lama gaya Dafa yang keluar sifat aslinya tidak seperti dulu yang lembut dan selalu berpikir dewasa. Akhirnya aku putuskan Dafa dan kembali pada Kevin. Kuserahkan seutuhnya pada cowok yang setia menunggu aku dan cowok yang telah aku kagumi sejak awal.
            Ternyata lebih bahagia ketika hanya aku dan Kevin sekarang aku nggak capek mengatur waktu ketemuan nggak harus bohong. Kebersamaanku dengan Kevin mulai lebih baik. Aku delete dengan sempurna Dafa dari kehidupanku. Hingga suatu saat aku mendengar berita yang paling mengerikan.
“Kevin kecelakaan..” itu kata papa Kevin kepadaku. Denga tidak percaya aku langsung datang kerumah sakit dan menuju ruang ICU tempat Kevin dirawat. Ya Tuhan disana aku lihat cowok yang aku sayangi sedang terbaring lemah dengan beberapa selang infuse di hidungnya. Kevin mengalami koma. Selama beberapa hari aku menunggu dia kupandangi berjam-jam wajahnya yang merah dan matanya yang tertutup. Setiap kali aku membisikan kata-kata lembut di telinga Kevin.
“maafkan aku Kevin , kamu cepat siuman ya? Agar kamu bisa ucapkan satu kata maaf untukku..”
Tapi Kevin tidak pernah terbangun bahkan untuk selamanya saat Shubuh malaikat menjemptnya.
Aku sungguh menyesal. Apalagi ketika aku menemukan satu surat Kevin untukku yang belum sempat dia berikan terselip di antara buku-bukunya yang tertata rapi dikamarnya.
Isi surat Kevin untukku.
“Nay , aku tahu kamu sudah menduakan aku dengan yang lain. Dia bernama Dafa kan? Tapi aku ikhlas karena aku yakin suatu saat kamu pasti kembali hanya untukku. Tanpa kamu minta , pintu maaf ini akan selalu ada untukmu. Karena aku mencintaimu dan kamulah cinta sejatiku”.

Sampai sekarang aku masih sering mengingat wajah Kevin dan mengingat semua kenanganku bersamanya dan sampai sekarang juga aku belum bisa melupakannya.
Selamat jalan Dafa maafkan aku telah mengkhianati cowok sebaik dan sesempurna seperti kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar