Sabtu, 26 Februari 2011

Janji Sahabat

Di malam hari yang sangat gelap dengan sinaran lampu-lampu kecil dan udaranya yang dingin. Aku , shinta dan Revine pergi berjalan menuju lapangan bulu tangkis yang letaknya tidak begitu jauh dari cottage yang aku singgahi. Kami pergi ke lapangan bulu tangkis untuk bermain bulu tangkis. Dari kejauhan aku melihat dua orang cowok yang salah satunya sangat tampan. “eh,lihat deh cowok itu anak panti asuhan kan?” kata shinta. “eh,eh lihat deh itu siapa sih yang memakai baju hitam itu? Jelek sekali!” teriak aku. Lalu cowok itu mendekati aku dan dia bertanya kepada aku.
“ada apa?” Tanya cowok itu kepada aku.
“ehmmm.. “sambil menyenggol tangan Shinta dan Revine.
“Enggak kok , aku Cuma mau pinjem kok aja” jawab aku gugup.
“Nih koknya” sambil memberikan kok itu ke aku.
“tapiii,kalau gitu aku tidak main dong,kan koknya hanya satu” sambung Shinta.
“Gimana kalau kita main tim saja”.
Tiba-tiba Revine menarik tangan aku dan Shinta ke pinggir lapangan.
“Ngapain sih kita main sama anak panti asuhan itu?” marah Revine.
“Iya juga ya,ngapain kita main sama mereka,dia kan cuma anak panti asuhan”
“Kalau gitu kita pura-pura aja deh sama mereka,daripada mereka tersinggung”.
Aku langsung berjalan kearah Aldhis yang sedang duduk berada di tengah lapangan dengan Gifari.
“Maaf ya , Aku , Shinta , Revine ingin makan malam dulu jadi gak bisa main bersama kalian deh”.
“Ya sudah,gak apa-apa kok”.
Setelah itu aku  berjalan menuju Cottage yang melewati lapangan bulu tangkis itu.
“Jadi kita gak main dong?huh,bete tau” Shinta cemberut.
“Iya apa salahnya sih kita main sama dia?” sambil melihat kearah Aldhis dan Gifari bermain bulu tangkis di lapangan itu.
“Ya salah lah , dia kan anak panti asuhan , gak level kali!” marah Revine.
“Udah ah,kita ke lapangan capek-capek kan emang berniat untuk bermain bulu tangkis” jawab aku lagi sambil  menarik tangan Shinta dan berbalik arah ke lapangan.
“Eh tunggu,mau kemana?” Revine berdiri di depan aku dan Shinta sambil menutupi dengan badannya yang besar itu.
“Ya mau balik kesana lah,main bulu tangkis sama mereka”. Jawab aku.
“Ih malu-maluin aja nih,tadi aja udah nolak main sama mereka,sekarang malah mau main sama mereka lagi”.
“Ya ampun gak apa-apa kali,pasti dia mau kok main sama kita”.
“Gak ah,aku tetap gak mau,males main sama anak panti asuhan” sentak Revine yang masih tetap menutupi jalan.
“loh,bukannya kamu suka dengan sih Gifari itu ya?” rayu aku.
“Iya vine,memang kamu mau melihat Mona dan Gifari berduaan?” sambung Shinta.
“Ya sudah deh kalau gitu!” jawab Revine cemberut.
“udah kali jangan cemberut gitu , jelek tau gak , nanti kalau di lihat Gifari muka kamu kaya gitu , Gifarinya gak suka lagi”. Rayu aku sambil berjalan menuju lapangan kembali untuk bermain bulu tangkis.
Akhirnya rayuan dan bujukan aku berhasil membuat Revine mau bermain bulu tangkis bersama mereka lagi walaupun Revine masih sedikit ragu-ragu.
Tetapi saat aku berjalan menuju lapangan , sayang sekali saking gelapnya aku sampai tak melihat batu yang ada di depan kaki aku.
“gubrakkk” aku terjatuh.
Karena bunyinya keras sekali Shinta , revine , Aldhis , dan Gifari langsung menolongku , membantuku berdiri dan membawa aku ke tempat duduk yang berada di samping lapangan.
“aduhhh” , jerit aku lagi.
Tetapi tetap saja tak ada yang mempedulikan aku.
“Revine , Shinta lagi ngeliatin apa sih?” Tanya aku sambil memegangi kedua kakiku yang sakit.
“Lihat deh kok Aldhis dan Gifari terlihat sangat berkuasa ya di cafe itu , dan masa Aldhis menyuruh pelayan untuk mengambilkan betadine” jawab Revine sambil memperhatikangera-gerik Aldhis dan Gifari yang berada di cafe itu.
“huh sepertinya aku mulai gak yakin kalau dia itu anak panti asuhan” Shinta mengintip dari belakang bahu Revine.
“Ya enggaklah , dia saja datang kesini bersama-sama dengan anak panti asuhan”.
“ssstttt , awas orangnya datang” sambil menginjak kaki Revine yang berada di sebelah kananku.
“auuuww” jerit Shinta kesakitan.
“Kenapa?” semua melihat kearah Shinta.
“oohh , tidak apa-apa kok” jawab Shinta.
“Kalau gitu sini kakinya” Gifari duduk di bawah kaki aku dan meneteskan betadine ke kakiku yang lecet dan berdarah.
“sudah-sudah gifari , biar aku saja yang mengurus kaki Mona” cemburu Aldhis dan menarik betadine yang berada di tangan Gifari.
“Ya sudah , lagian sudah selesai kok” sahut Gifari sambil kembali duduk di samping kiriku.
“oh…”
“Oh iya tempat panti asuhan kalian itu di Bogor atau di Jakarta sih?” Tanya Revine sambil menatap Gifari dari jauh.
“Hah? Panti Asuhan?”
“hahaha” tawa Aldhis terpingkal-pingkal.
“Kalian mengira kami anak panti asuhan ya?” sambil menengok sebentar ke arah Aldhis.
“loh , jadi kalian?” Tanya aku.
“Iya jadi gini hari ini adalah 40 harian meninggalnya nenek aku dan Gifari , dan arena Hotel CIK MUNGIL ini miliknya jadi kami merayakannya disini bersama-sama dengan anak panti asuhan.
Aku menengok kearah Revine dan Shinta dengan malunya dan langsung meminta maaf karena telah membicarakannya yang tidak-tidak.
“ehmm , aku minta maaf ya aku sudah ngomongin kamu yang enggak-enggak” malu aku.

“Iya aku juga minta maaf” sambung Revine dan Shinta.
“Iya tidak apa-apa kok”.
“yuk” sahut Revine dan Shinta.
Saat Aldhis , Revine , Gifari dan Shinta jalan menuju kearah lapangan sepertinya mereka melupakan aku.
“hai kok aku tidak diajak sih?”
Lalu mereka berbalik ke tempatku dan langsung duduk disamping aku.
“Setelah aku pikir-pikir kalau tadi aku tidak terjatuh pasti kita tidak akan berteman seperti ini”. Aldhis langsung memegang tangan aku.
“Benar banget tuh kalau jatuh , Gifari dan Shinta tidak akan bisa dekat seperti ini ya”. Aldhis mendekati aku dan memegang tangan aku lagi.
“Iya” cemberut Revine.
“Berarti kita memang di takdirin untuk menjadi sahabat”.
“Ah yakin lo gif? paling juga lo besok jadian sama Shinta”. Ledek Aldhis.
“gak lah , kita sahabatan aja  tapi kalau seandainya gue suka sama Shinta ga salahkan? Gue juga suka kok sama Revine”. Jawab Gifari sambil menatap Shinta dan Revine.

“ah jangan sok romantis deh lo !! udh malam nih”.
“Sirik aja lo dis” senyum Gifari ke Aldhis.
“Ya sudahlah , kan sudah malam sekali saatnya kita untuk tidur” sambil berdiri.
“Iya , besok pagi kita terusin lagi saja , kita bertemu di lapangan ini lagi” sambung Revine sambil berdiri.
“Tapi…”
“Kenapa dis?”.
“Kita sudah jadi sahabat kan?” Tanya Aldhis.
“iya kita sahabatan” sahut aku.
“tapi kalau gue suka sama lo gimana?” Tanya Aldhis lagi.
“hahaha” tawa Mona.
“Sudah sudah janji sahabat ya” sambung Gifari.
“janji ya kita jangan pisah”.
“oke deh senang bisa kenal kalian”.
“selamat malam sahabatku”.
Dan malam ini kami berjanji akan selalu bersahabat dan selalu ada dalam suka dan duka.

[+/-] next...

Penyesalanku :(

Satu tahun yang lalu , tepat saat ulang tahunku yang ke-15 aku merasakan saat yang terindah dalam hidupku. Aku berkenalan dengan cowok bernama Kevin teman satu sekolahku. Di mataku Kevin keren banget. Aku selalu merasa bahagia ketika melihatnya. Pada suatu hari dia pernah datang kerumahku dengan membawa sebucket bunga mawar warna merah yang tertata sangat indah. Lagi-lagi hatiku merasa bahagia menerima bunga darinya.
Perkenalanku dengan Kevin ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ. Setelah pendekatan beberapa bulan akhirnya kami jadian. Aku merasa bahagia sekali ternyata cowok yang sebelumnya aku kagumi ternyata sekarang menjadi pacarku. Dia ga pernah males menemaniku kemana saja aku mau.
“kamu beruntung nay punya cowok seperti Kevin..” begitu kata semua teman dekatku.
Iya sih tapi terkadang ada satu hal yang membuatku merasa ada yang kurang dalam diri Kevin. Dia bukan cowok yang pintar seperti yang aku inginkan. Dia cowok yang sedikit brandal. Bukan cowok smart idamanku.
            Hampir satu tahun dalam kebersamaan kami , aku mulai merasa tidak nyaman. Bosan punya cowok yang seperti itu. Ah , kadang aku bermimpi ada cowok yang sesuai dengan minatku selama ini. Karena kebetulan aku suka segala sesuatu yang berbau pelajaran , tiba-tiba aku ingin punya seseorang cowok yang seperti aku inginkan.
Saat aku mengikuti bimbingan belajar di tempat lesku tiba tiba aku bertemu dengan seorang cowok bernama Dafa. Dia juga keren seperti Kevin tetapi Dafa jauh lebih pintar dari pacarku sendiri.
“aku Dafa” itu katanya saat memperkenalkan diri padaku.
Lagi-lagi perasaan aneh yang kurasakan saat pertama kali aku melihat Kevin muncul lagi.
Oh God , what’s going on?
            Nggak hanya sampai di situ saja perasaan ini. Ternyata baying-bayang Dafa selalu mengikutiku kemana saja aku pergi. Termasukk ketika aku bersama Kevin.
Kevin sepertinya tidak paham dengan apa yang terjadi. Telepon dari Dafa sering masuk ketika aku jalan dengan Kevin dan aku selalu sukses berbohong kepada Kevin dengan mengatakan telepon itu dari teman saja.
Suatu ketika Dafa mengajak aku ketemu lagi.
“Nay , kita jadian yuk?” kata Dafa.
“nggak mungkin Dafa! Nggak mungkin! Jawab aku.
“kenapa ga mungkin? Ayolaaaaah!!”
“aku sudah punya pacar daf . aku sayang sama pacarku dan pacarku juga sayang banget sama aku namanya Kevin”.
“Kevin? Terus kenapa? Kamu kan bisa jalanin dua-duanya!” kata dafa tenang.
“apa?!!!”
“nay , nggak hanya cowok aja kok yang bisa begitu. Cewek juga bisa. Jadikan aku yang kedua..” kata Dafa lagi.
            Entah apa yang membuat aku jadi menerima ucapan Dafa. Menduakan Kevin dan menerima kehadiran Dafa dan parahnya lagi sering banget Kevin mengantarku pada saat ingin bertemu Dafa. Bahkan Kevin juga menemaniku waktu mencari sesuatu hadiah untuk Dafa. Sahabat-sahabatku protes. Mereka marah denganku bahkan mulai membenciku karena hal ini. Setiap kali aku berusaha membela diri mereka justru semakin memojokanku.
“hati-hati Nay! Kevin itu seperti mutiara asal lo tahu ya! Lo pasti akan menyesal nanti”
Begitu teman-temanku mengingatkanku. Aku tetap mengikuti kata-kata Dafa , kalau bisa kenapa tidak? Aku pun asyik dalam duniaku ini.
Kalau malam minggu ini sudah ketemu Kevin minggu depannya aku ketemu dengan Dafa dan berbohong dengan alas an apa saja. Ketika teman-temanku menanyakan dengan santai aku menjawab “Enak banget jalan dengan dua cowok”. Kemana mana selalu ada yang nganterin , ngajak makan , dan membeli apa saja yang aku mau jadi uang jajan aku utuh deh.
Dilubuk hatiku yang paling dalam ada rasa aku tidak ingin putus dengan Kevin karena dia sudah baik banget sama aku apalagi dia sangat sabar banget denganku dan mama papa aku sudah nyaman banget dengan Kevin. Tapi untuk putus dengan Dafa jelas berat bagiku. Aku menikmati hari-hari yang indah dengannya dan menjalani hobby yang sama. Namun apa yang aku pikirkan ternyata tidak sejalan dengan kenyataan. Tiba-tiba Dafa mendatangiku dengan wajah yang cuek dan marah.
“Nay , lo mesti pilih! Gue atau Kevin? Gue sudah nggak tahan lo jadiin yang kedua”
Aku kaget banget ini bukan perjanjian awal aku dengan Dafa. Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba Dafa berubah pikiran seperti itu. Aku menjawabnya kalau kami nggak mungkin jadian seperti pasangan pacaran lain. Aku jelasin lagi kalau aku sudah punya pacar. Aku tidak bisa mutusin Kevin begitu saja.
            Ternyata Dafa capek harus jalan denganku tiap saat seperti ini. Mau ketemu saja harus mengatur jadwal dulu , mau kerumah sering aku larang segala macemlah. Tiba-tiba Dafa mengatakan sesuatu yang membuatku seolah dihujani amarah dan kesedihan yang sangat mendalam.
“baiklah menurut gue semua mungkin. Lo tinggal pilih.. gue atau Kevin?” saat itu aku melihat wajahnya yang memerah seperti ingin marah.
“kalau gue pilih Kevin gimana?” aku mencoba untuk bercanda.
kevin nggak akan selamat” Dafa tiba-tiba mengancam sambil menarik tanganku dengan kuat. Aku sangat kaget dengan ancaman Dafa yang seperti itu tapi aku hanya berpikir aku kira itu hanya main-main saja. Ternyata dugaan aku salah lama lama gaya Dafa yang keluar sifat aslinya tidak seperti dulu yang lembut dan selalu berpikir dewasa. Akhirnya aku putuskan Dafa dan kembali pada Kevin. Kuserahkan seutuhnya pada cowok yang setia menunggu aku dan cowok yang telah aku kagumi sejak awal.
            Ternyata lebih bahagia ketika hanya aku dan Kevin sekarang aku nggak capek mengatur waktu ketemuan nggak harus bohong. Kebersamaanku dengan Kevin mulai lebih baik. Aku delete dengan sempurna Dafa dari kehidupanku. Hingga suatu saat aku mendengar berita yang paling mengerikan.
“Kevin kecelakaan..” itu kata papa Kevin kepadaku. Denga tidak percaya aku langsung datang kerumah sakit dan menuju ruang ICU tempat Kevin dirawat. Ya Tuhan disana aku lihat cowok yang aku sayangi sedang terbaring lemah dengan beberapa selang infuse di hidungnya. Kevin mengalami koma. Selama beberapa hari aku menunggu dia kupandangi berjam-jam wajahnya yang merah dan matanya yang tertutup. Setiap kali aku membisikan kata-kata lembut di telinga Kevin.
“maafkan aku Kevin , kamu cepat siuman ya? Agar kamu bisa ucapkan satu kata maaf untukku..”
Tapi Kevin tidak pernah terbangun bahkan untuk selamanya saat Shubuh malaikat menjemptnya.
Aku sungguh menyesal. Apalagi ketika aku menemukan satu surat Kevin untukku yang belum sempat dia berikan terselip di antara buku-bukunya yang tertata rapi dikamarnya.
Isi surat Kevin untukku.
“Nay , aku tahu kamu sudah menduakan aku dengan yang lain. Dia bernama Dafa kan? Tapi aku ikhlas karena aku yakin suatu saat kamu pasti kembali hanya untukku. Tanpa kamu minta , pintu maaf ini akan selalu ada untukmu. Karena aku mencintaimu dan kamulah cinta sejatiku”.

Sampai sekarang aku masih sering mengingat wajah Kevin dan mengingat semua kenanganku bersamanya dan sampai sekarang juga aku belum bisa melupakannya.
Selamat jalan Dafa maafkan aku telah mengkhianati cowok sebaik dan sesempurna seperti kamu.

[+/-] next...

sahabat jadi cinta dan berakhir permusuhan

Saat keluarga besarku mengadakan arisan keluarga yang rencananya akan diadakan dipuncak, aku , shinta , dan revine sangat setuju sekali hitung-hitung ya untuk mengisi waktu liburan. Tepatnya hari sabtu kita semua berangkat kesana. Kita bertiga sangat senang sekali! Sesampainya disana kita menyewa tiga kamar hotel. Nama hotel itu adalah CIK MUNGIL. Kita semua makan-makan setelah itu aku , shinta , dan revine bermain kelapangan disana kita melihat tiga cowok sedang asik bermain gitar. Kita bertanya kesalah satu cewek yang ada disamping kita itu. Ternyata di hotel itu ramai karena sedang ada acara 40 hari meninggalnya yang punya hotel dan banyak anak kecil ada disana ternyata mereka adalah anak-anak panti asuhan milik yang meninggal itu.
Kita bertiga merasa tidak suka melihat 3 cowok itu dan kita hanya berpikir mereka itu adalah salah satu anak panti asuhan juga.
Malam hari tiba kita bermain bulu tangkis dilapangan tetapi sama sekali tidak memperdulikan cowok itu. Tidak lama kemudian cowok -cowok itu mengajak kita bermain bersama dan kita menerima ajakannya itu. Kita bermain dengan senang tanpa mengetahui namanya masing-masing setelah lelah bermain barulah memperkenalkan diri dan ternyata tiga cowok itu adalah pemilik hotel ini kita telah salah menduga. Cowok itu bernama Aldhis , Gifari dan Dikas. Keesokan harinya sebelum kita kembali ke Jakarta kita bertukar nomor dengan yang namanya gifari. Kita bertiga memang merasa sangat senang bisa mendapatkan nomornya. Sampai di Jakarta yang namanya Aldhis mengirim pesan kepadaku dan aku sangat kaget dia bisa mendapatkan nomorku ternyata diberitahu oleh Gifari. Berhari-hari aku smsan sama Aldhis kita sangat merasa dekat selalu curhat dan segala macemnya malah kita berjanji untuk bersahabat. hampir tiap minggu aku dan keluargaku jalan-jalan kepuncak dan menginap dihotelnya. Disitu aku selalu bertemu dengannya dan selalu cerita-cerita bareng. Kita berdua juga tidak pernah memperdulikan kalau saudaranya dia dan saudaraku ngeledekin aku dan meminta aku dan dia untuk pacaran. Tidak lama kemudian dia mengungkapkan perasaannya denganku aku sangat kaget karena aku sama sekali tidak menyangka dia akan bilang seperti itu. Tadinya aku hanya sekedar untuk iseng-iseng menerima dia tapi lama kelamaan perasaan itu berubah menjadi perasaan saling suka. Kita berdua menjalin hubungan hampir dua bulan awalnya memang baik-baik saja tetapi lama-kelamaan perasaan itu juga berubah mungkin karena kita berdua masih labil tidak bisa menerima pacaran jarak jauh akhirnya kita berdua memutuskan untuk tidak bersama lagi. Hari-hari kita jalani masing-masing walaupun kita masih sangat dekat dan kedekatan itu sekarang hanya sebagai sahabat. Sebulan berlalu kita berdua memutuskan untuk bersama lagi dan hampir dua bulan kita berpacaran lagi seperti yang aku duga ternyata aku harus putus lagi dengannya hanya karena long distance. Tapi disitulah hubunganku dengannya mulai hancur yang tadinya mungkin setelah putus bisa tetap menjadi sahabat ternyata sekarang tidak seperti itu. Karena ada konflik diantara kita berdua yang membuat akhirnya kita menjadi musuh. Sebenarnya aku tidak menginginkan ini, ini karena pacar barunya yang melarangnya untuk denganku. Ternyata tidak selamanya memiliki hubungan seperti pacaran itu dapat memiliki hasil yang baik seperti sebelumnya. Dan aku salah menduga tentang itu, kalau waktu bisa diulang kembali aku tidak menginginkan permusuhan itu terjadi. Aku lebih baik tetap bersahabatan dengannya tanpa aku harus pernah memiliki hubungan dengannya. Sahabat akan selalu ada tetapi untuk pacaran itu tidak. Tidak semua yang kita inginkan itu berjalan dengan mulus.

[+/-] next...